Kamis, 20 Februari 2014
Browse Manual »
Wiring »
catatan
»
dari
»
kota
»
pinggiran
»
Catatan dari Pinggiran Kota
Ibarat kata pepatah "Jauh berjalan banyak dilihat, Lama hidup banyak dirasa". Memaknai suatu pengalaman yang menyenangkan mungkin lebih mudah ketimbang pengalaman yang kurang menyenangkan yang memiliki pelajaran berharga. Hidup di ibukota seperti Jakarta bukanlah mimpi dan keinginan, tapi hidup memang harus memilih, dan setiap pilihan tentu memiliki suatu ilmu, suatu hikmah..Dan sebagai pengalaman yang berahmat, maka saya harus menjadi orang yang tangguh dalam mejalani hidup dengan bersyukur, sebab Hidup memang harus bersyukur
Perjalananpun terhenti ketika menyaksikan wajah-wajah resah dan menghiba dari pusat dan pinggiran kota, wajah yang terhimpit dalam kegelisahan. Mungkin mereka bergumam dalam seribu tanya, atau malah menunggu dalam tanya adakah esok sejahtera menjadi milik mereka? Pemandangan kontradiktif dibalik gedung bertingkat dan kawasan perumahan mewah, berdiri sejumlah rumah gubuk yang hampir terlindas oleh tembok pagar pembatas kawasan berkelas. Mereka bukan kaum pendatang, bukan pula penumpang tanah, mereka adalah orang asli pribumi Betawi yang sudah bercokol lama, hidup dari tanah nenek moyang namun harus menjadi orang-orang terpinggir yang hidup dipinggiran kota.
Gambar buram sisi ibukota lainnya, ketika wajah-wajah letih harus menumpang tidur di emperan gedung, sambil menahan lapar. Tak peduli orang berlalu lalang, tak hirau kiri kanan yang sedang menikmati santap malam di restoran berbintang lima, mereka tidak perduli karena memang tidak ada yang peduli terhadap mereka, yang mereka peduli hanyalah bisa menyambung nyawa di esok hari sekalipun dengan mengais sisa makanan atau menjadi pengemis dan pemulung yang harus siap diusir satuan keamanan pemerintahan. Sungguh pemandangan yang mengharukan, orang-orang yang mengalami satu atau lebih dimensi penyingkiran, diskriminasi atau eksploitasi di dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik kota.

Catatan dari Pinggiran Kota

Menyusuri denyut jantung kota Jakarta seringkali menjadi pilihan lain ketika ada waktu luang. Bangunan-bangunan tinggi angkuh nan kokoh yang hampir mencapai dasar langiti, hiruk pikuk manusia bergeliat tak kenal waktu, entah itu dari tempat hiburan nan berkelas atau juga jajanan murah pinggiran jalan, semuanya berkejaran dalam bising kota Jakarta yang tidak pernah mati. Yach..Jakarta selalu menggoda wajah-wajah untuk bertahan hidup atau sekedar pilihan utama tempat bersenang-senang, itupun bagi mereka yang punya duit.
Mereka tidak pernah bercita-cita menjadi kaum terpinggir dan hidup dalam kelemahan status sosial, mereka hanya ingin diterima sebagai pemilik ibu pertiwi meskipun mereka tahu, harga diri mereka dianggap seperti sampah, yang kurang sedap dipandang, ketimbang sekelompok orang luar yang hidup necis tapi penjajah dan penjual hasil bumi. Mereka tidak lagi peduli dengan obrolan siang pemerintah yang berjanji mengentaskan kemiskinan, atau orang-orang pintar ngomong ditelevisi yang katanya peduli rakyat miskin, bahkan ketika sejumlah demo mahasiswa dengan dalih membela orang-orang miskin, sudah dianggap pepesan kosong belaka.
Seringkali aku merasa jengah dan sungkan - bicara tentang saudara kita - yang terhimpit derita kemiskinan
Sebab sesungguhnya mereka mungkin - lebih terhormat di mata alam - Sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih berharga di mata Tuhan - Kadangkala aku bahkan merasa cemburu - melihat senyum polos dan lepas
meski sambil menahan kelaparan - Maka sesungguhnya mereka lebih kaya - meskipun tanpa harta
Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia - Dapat mensyukuri yang dimiliki - Sesungguhnyalah aku ingin belajar - sikap mereka menjalani hidup - Angin, tolonglah bawakan aku - sepotong kertas dan pena tajam
Akan kutulis tebal-tebal - pelajaranmu lewat diam
Kadangkala aku bahkan merasa cemburu - melihat senyum polos dan lepas - meski sambil menahan kelaparan - Maka sesungguhnya mereka lebih kaya - meskipun tanpa harta - Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia - Dapat mensyukuri yang dimiliki
Sesungguhnyalah aku ingin belajar - sikap mereka menjalani hidup- Angin, tolonglah bawakan aku
sepotong kertas dan pena tajam- Akan kutulis tebal-tebal - pelajaranmu lewat diam - Akan kusimpan dalam-dalam - pelajaranmu lewat diam ( nyanyian suara hati - Ebiet G Ade )
Sebuah catatan kelam dari pinggiran kota menjadi catatan pelajaran paling penting dan tempatku bercermin. Mereka adalah orang-orang yang menghargai kebaikan dan tidak berkeberatan dengan kekurangan, mereka yang selalu memaafkan dan tak pernah membuat kecil meski dunia tidak lagi indah dan bersahabat. Mereka yang selalu mampu bersyukur meski dalam kelaparan dan mungkin mereka lebih berharga di mata Tuhan meski tanpa harta. Lalu bagaimanakah jika Tuhan tidak lagi mengirimkan orang-orang miskin disekitar kita?
Akan kemana lagi shodaqoh dipersembahkan jika kita tidak pernah shodaqoh dan tak peduli dengan saudara kita yang terhimpit kemiskinan? Ketika kita di tanya apa yang paling membuat kebahagiaan manusia saat ini. mungkin jawaban yang paling tepat adalah dengan memberi kebahagian kepada orang lain.memberi memang lebih indah daripada menerima...Tak selamanya hidup ini stabil, ada saatnya kita mengalami goncangan hidup. Jabatan, kekayaan dan fasilitas yang dimiliki saat ini merupakan "baju" yang bisa terlepas setiap saat. Namun, kebahagiaan yang diperoleh jika kita "memberi dengan tulus" adalah sesuatu yang abadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar